Investing

Tarif Lebih Rendah, Yuan Tergelincir & Dolar Tenang


 Tarif Lebih Rendah, Yuan Tergelincir & Dolar Tenang

Investing.com - Yuan diperdagangkan sedikit melemah sementara dolar tetap tidak berubah pada hari Senin setelah Presiden China Xi Jinping mengatakan pada Pameran Impor Internasional China bahwa Beijing akan menurunkan tarif impor dan terus memperluas akses pasar.

Pasangan USD/CNY bertambah tipis 0,01% ke 6,8931 pada pukul 11.30 WIB. Bank Rakyat China (PBoC) menaikkan suku bunga acuan harian yuan sebesar 395 pips menjadi 6,8976 dari koreksi pada hari Jumat di 6,9371.

Indeks dolar AS - yang melacak greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya - tidak berubah pada 96,29. Dolar berada di bawah tekanan pekan lalu akibat meningkatnya ekspektasi Brexit aman yang memperkuat sentimen investor global dan memperlemah dolar "safe-haven".

Sementara itu, data resmi yang dirilis pada hari Jumat mengungkapkan bahwa pertumbuhan pekerjaan AS rebound pada bulan Oktober dan upah mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam 9,5 tahun.

"Data pekerjaan telah menegaskan kembali kekuatan dolar karena faktor perbedaan suku bunga ke depan. Risiko bahwa pasar mungkin akan terkejut oleh keputusan Fed yang lebih hawkish," sebut Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang senior di NAB.

Di tempat lain, pasangan AUD/USD dan NZD/USD masing-masing tergelincir 0,1% dan 0,3% dengan data PMI China yang lemah terus dikutip sebagai katalis aksi penjualan.

Reserve Bank of Australia akan bertemu minggu ini meskipun analis yakin bank sentral tidak mungkin membuat langkah apapun mengenai kebijakan dalam waktu dekat.

Pasangan USD/JPY naik 0,1% ke 113,3. Gubernur Bank of Japan Kuroda mengatakan dalam sebuah pidato pada pertemuan pemimpin bisnis di Nagoya bahwa ketidakpastian dari luar negeri berdampak pada ekonomi Jepang yang terus meningkat dan bahwa bank sentral menyadari bahwa kebijakan pelonggaran berkelanjutan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan. Ke depan, BoJ akan terus memantau risiko destabilisasi ekonomi, keseimbangan efek dan biaya kebijakan saat ini.


Sumber Berita investing.com

Share Social Media


Comments