Investing

Dolar Tergelincir, Aussie Menanjak Jelang Pengumuman Tarif


Dolar Tergelincir, Aussie Menanjak Jelang Pengumuman Tarif

Investing.com - Dolar AS tergelincir dan berbanding terbalik dengan dolar Aussie yang menguat tipis pada hari Senin karena pasar menunggu pengumuman tarif tambahan AS sebesar $200 miliar bagi barang-barang dari China.

Indeks Dolar AS, yang melacak greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya, diperdagangkan 0,04% melemah ke 94,47 pada pukul 11.35 WIB.

Laporan pada akhir pekan menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump ingin maju dengan tarif $200 miliar untuk barang-barang China.

Tingkat tarif mungkin akan menjadi sekitar 10%, Wall Street Journal melaporkan, mengutip dari berbagai sumber. Ini masih di bawah rencana pemerintah 25% yang sedang mempertimbangkan untuk putaran tarif yang ada.

"(Dolar AS) akan menjadi panduan arah pada minggu ini dari setiap diskusi perdagangan dan pergerakan pasar obligasi dan ekuitas," sebut Richard Grace, kepala strategi mata uang dan kepala ekonomi internasional di Commonwealth Bank of Australia.

Sementara itu, pasangan AUD/USD menguat 0,7% ke 0,7160. Dolar Australia, yang merupakan proxy untuk pertumbuhan global dan aset China, berada di bawah tekanan dalam beberapa bulan terakhir akibat ancaman tarif Trump menjadi kenyataan. Mata uang Australia telah jatuh 9% sepangang minggu lalu dan merupakan salah satu mata uang utama berkinerja terburuk tahun ini. Reserve Bank of Australia dijadwalkan mempublikasi risalah dari pertemuan kebijakan terbaru pada hari Selasa.

"Minggu ini, AUD/USD akan mengeluarkan beberapa petunjuk dari risalah pertemuan kebijakan (Reserve Bank of Australia) September pada hari Selasa. Kami tidak berharap banyak reaksi pasar mata uang," ujar Grace.

Di tempat lain, pasangan USD/JPY turun 0,1% ke 111,97. Pasar saham Jepang ditutup libur. Pengumuman kebijakan moneter dari Bank of Japan akan diungkap pada minggu ini, meskipun tidak ada perubahan yang diharapkan.

Pasangan USD/CNY naik tipis 0,03% menjadi 6,8732

"Eskalasi lebih lanjut terlihat sangat mungkin terjadi di mana tarif kemungkinan akan dinaikkan menjadi 25 persen dan lebih banyak lagi ancaman dari tarif AS, sementara China berpotensi menarik keluar dari pembicaraan perdagangan sepenuhnya serta meningkatkan pembatasan ekspor langsung," JPMorgan (NYSE:JPM) analis mengatakan dalam catatan pagi.

"Ini tentu saja hanya akan mengobarkan situasi panas lebih jauh."


Sumber Berita investing.com

Share Social Media


Comments